Haji dan Kesadaran Sosial
Meskipun ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, namun bagi umat Islam, ibadah ini baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walaupun begitu, Rasulullah SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Rasulullah SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, terhitung mulai sejak saat itu beliau sudah mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.
Ternyata Rasulullah SAW tidak juga beribadah haji pada tahun 8 H, tidak juga pada 9 H. Baru pada tahun 10 H, Rasulullah SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Rasulullah SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wada’ (haji perpisahan). Itu artinya, sebenarnya Rasulullah SAW punya kesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Rasulullah SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Rasulullah SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran beliau adalah memberi teladan bagi umatnya.
Ketika Rupiah Menguat
Nilai tukar rupiah terus mengalami trend penguatan terhadap dolar AS. Sampai tulisan ini dibuat (16/10), berdasarkan data Bank Indonesia nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat 9.360 dan diperkirakan akan terus mengalami penguatan. Mencermati penguatan nilai tukar rupiah ini dapat kita lihat dengan menggunakan pendekatan moneter (monetary approach).
Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Melalui pendekatan moneter maka diteliti pengaruh variabel jumlah uang beredar dalam arti luas, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, dan variabel perubahan harga. Selanjutnya dipertimbangkan juga variabel inflasi dan sentimen pasar (market sentiment) sebagai faktor yang menentukan tinggi rendahnya nilai mata uang. Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang (jumlah uang beredar).
Krisis Keuangan Global dan PHK
Tahun 2009 adalah tahun penuh tantangan bagi perekonomian nasional. Banyak ketidakpastian yang menghinggapi semua pelaku ekonomi, namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali untuk bertahan atau bahkan tetap tumbuh. Dalam hal ini, secara umum, berbagai kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah SBY pada 2008 dalam memitigasi dampak krisis pada sektor keuangan dapat dikatakan cukup berhasil. Berbagai gejolak dan fluktuasi tajam pada pasar modal dan keuangan tidak sampai menghancurkan sektor produksi, meski tidak urung ada beberapa dampak yang harus diserap.
Secara umum, dampak krisis finansial global kinerja industri manufaktur kota Batam menjadi pemicu terbesar asesmen koreksi laju perekonomian Kepulauan Riau. Melambatnya aktivitas perekonomian di triwulan IV-2008 diperkirakan terus berlanjut di periode triwulan I-2009. Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun 2009 diperkirakan hanya sebesar -0,01 persen s.d. 1,7 persen (yoy).
Tingkat Kesehatan BPR
Sebagai lembaga intermediasai, peran perbankan cukup penting dalam perekonomian. Bila sistem perbankan sehat maka perekonomian negara akan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Perbankan yang sehat akan mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi dengan baik, yaitu dengan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Melalui sistem perbankan yang sehat dana mengalir dari pihak yang mengalami surplus dana kepada yang membutuhkanya (defisit).
Bank Pekreditan Rakyat (BPR) yang merupakan bagian dari sistem Perbankan juga harus sehat supaya bisa berkontribusi maksimal dalam menggerakan perekonomian secara keseluruhan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana suatu kesehatan bank di ukur. Kesehatan suatu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diukur dari lima faktor yaitu Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity yang sering di singkat menjadi CAMEL yang meliputi :
Analisis Perbankan Kepri 2008 – 2009
Evaluasi 2008
Peran perbankan sebagai salah satu sumber pembiayaan memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Meningkatnya peran serta perbankan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan perkembangan sektor riil tercermin dari penguatan berbagai indikator utama antara lain jaringan kantor, dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan. Di tengah krisis keuangan global, kinerja perbankan di Provinsi Kepulauan Riau selama tahun 2008 menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Beberapa indikator-indikator perbankan, seperti total aset, dana pihak ketiga, penyaluran kredit dan laba perbankan terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi.
Secara kelembagaan, jumlah jaringan kantor bank umum yang terdiri atas Kantor Cabang Bank Umum di wilayah Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebanyak 46 kantor cabang di akhir tahun 2008, meningkat dibandingkan akhir tahun 2007 yang tercatat sebanyak 44 kantor bank. Sedangkan jumlah kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang pada akhir tahun 2007 tercatat sebanyak 12 kantor pada akhir tahun 2008 meningkat menjadi 23 kantor BPR dan 3 (tiga) kantor cabang BPR.
Dari sisi kegiatan usaha, total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada akhir tahun 2008 meningkat sebesar Rp4,19 triliun (25,19%) menjadi sebesar Rp20,82 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2007 yang tercatat sebesar Rp16,63 triliun. DPK yang dihimpun oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau meningkat sebesar Rp1,98 triliun (13,21%) menjadi sebesar Rp16,99 triliun. Sedangkan penyaluran kredit oleh perbankan meningkat sebesar Rp2,63 triliun (30,57%) menjadi sebesar Rp11,22 triliun pada akhir 2008 dibandingkan dengan posisi Desember 2007 yang tercatat sebesar Rp8,59 triliun.
BI Rate dan Suku Bunga Bank
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter secara bertahap tetapi pasti terus menurunkan suku bunga acuan SBI. Pada tanggal 5 Mei 2009, Bank Indonesia secara resmi memutuskan untuk menurunkan suku bunga SBI sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan perkembangan positif yang terjadi di pasar keuangan global yang mendorong perbaikan risiko di emerging markets, termasuk Indonesia. Penurunan suku bunga SBI tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dengan tetap menjaga kestabilan harga serta sistem keuangan dalam jangka menengah.
Meskipun demikian, penurunan suku bunga SBI tersebut ternyata belum diimbangi dengan penurunan suku bunga kredit oleh perbankan secara signifikan. Secara teoritis, pada saat suku bunga acuan yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) turun, suku bunga simpanan akan ikut turun dan pada gilirannya suku bunga kredit ikut turun. Turunnya suku bunga kredit diharapkan akan meningkatkan permintaan kredit yang dapat menggerakkan sektor riil sehinggga perekonomian menjadi semakin membaik dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Prediksi Inflasi Batam
Inflasi itu mirip dengan pencopet. Kita tidak tahu siapa yang mengambil uang kita. Namun jika pendapatan kita tetap, kita menjadi tambah miskin setiap bulan dengan adanya inflasi. Ketika harga barang terus naik, sementara pendapatan kita tidak kunjung bertambah maka kemampuan kita untuk membeli barang kebutuhan pokok menjadi semakin turun. Oleh karena itu, inflasi mendapatkan perhatian yang cukup serius bagi para penentu kebijakan baik dari kalangan pemerintah maupun pelaku usaha.
Kebijakan pemerintah yang menurunkan kembali harga BBM pada 15 Januari 2009 sebesar 10 persen diharapkan menjadi stimulus positif yang mampu menahan laju inflasi di Kota Batam. Sebagaimana diketahui, pada bulan Desember 2008 Kota Batam mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm). Deflasi yang terjadi pada bulan Desember tersebut salah satunya dipengaruhi oleh turunnya harga BBM yang diturunkan oleh pemerintah sebanyak dua kali pada bulan tersebut.
Timur Tengah : Alternatif Pasca Krisis
Pengaruh krisis keuangan global, yang memuncak dengan ambruknya berbagai institusi keuangan di Amerika Serikat September 2008 lalu, dan menggoncang Eropa juga Jepang serta Cina memang tidak terasa langsung di Indonesia. Meskipun demikian khususnya sektor-sektor industri yang berorientasi ekspor seperti industri elektronik, rotan dan terutama industri tekstil akan sangat terpengaruh akibat menurunnya permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat yang tentu saja berdampak pada produksi.
Selain itu, krisis keuangan global juga telah mengubah peta keuangan global, meskipun belum terlalu drastis. Perubahan dalam peta keuangan global tersebut telah memunculkan ekspektasi baru tentang tatanan keuangan global ke depan bahwa terjadi pergeseran dalam peta keuangan global yang ditandai dengan berpindahnya kepemilikan saham sejumlah lembaga keuangan internasional kepada investor dari negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah.