Tags

, , , , ,

DSC_0203 copy

Ketika pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sampai dengan 126% pada bulan Oktober 2005 Bank Indonesia merespon kondisi tersebut dengan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis points (bps) 10% menjadi 11%. Ketika indikator makroekonomi menunjukkan kinerja yang positif seperti pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi cukup terkendali, dan stabilitas nilai rupiah tetap terjaga, pada tanggal 6 Desember 2007, Bank Indonesia menurunkan BI Rate sebesar 25 bps dari 8,25% menjadi 8%. Sebenarnya apa hubungan antara BI Rate dengan kenaikan harga BBM, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan dengan stabilitas nilai tukar. Untuk membahas lebih lanjut hal tersebut, sebaiknya kita mengetahui tentang BI Rate itu sendiri.

Apa itu BI Rate?

BI Rate merupakan suku bunga dengan tenor satu bulan yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik yang berfungsi sebagai sinyal (stance) kebijakan moneter. Secara sederhana, BI Rate merupakan indikasi level suku bunga jangka pendekĀ  yang diinginkan Bank Indonesia dalam upaya mencapai target inflasi.

BI Rate digunakan sebagai acuan dalam operasi moneter untuk mengarahkan agar Suku Bunga SBI 1 bulan hasil lelang Operasi Pasar Terbuka (OPT) berada di sekitar BI Rate. Selanjutnya suku bunga BI Rate diharapkan mempengaruhi suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB), suku bunga simpanan, dan suku bunga lainnya dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Kenapa harus BI Rate?

Sasaran akhir suatu kebijakan moneter dalam arti luas mencakup stabilitasi harga; pertumbuhan ekonomi; perluasan kesempatan kerja; keseimbangan neraca pembayaran; stabilitas financial markets; dan stabilitas pasar valuta asing. Secara ideal, semua sasaran tersebut dapat dicapai secara bersamaan. Namun dalam prakteknya di Indonesia seringkali mengandung unsur-unsur yang kontradiktif. Misalnya: usaha untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja pada umumnya dapat berdampak negatif terhadap kestabilan harga dan keseimbangan neraca pembayaran.

Menyadari hal ini, Bank Indonesia memfokuskan sasaran kebijakan moneternya pada stabilitas nilai Rupiah, yang dicapai melalui stabilitas harga (inflasi) dan stabilitas nilai tukar. Untuk mencapai sasaran akhir tersebut maka diperlukan suatu respon kebijakan untuk mengendalikan situasi moneter dan pasar keuangan agar tetap berada di koridor yang diinginkan. Respon kebijakan yang dimaksud dinyatakan dalam kenaikan, penurunan, atau tidak berubahnya BI rate, sebagai sinyal kebijakan moneter untuk mengarahkan dan mempengaruhi suku bunga yang berlaku di pasar keuangan. Arah (respon) kebijakan moneter secara konsisten ditujukan untuk mencapai sasaran inflasiĀ  jangka menengah yang rendah dan stabil (inflation targeting), yang ditetapkan oleh pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia.

Bagaimana BI Rate ditetapkan?

Penetapan respon kebijakan moneter biasa dilakukan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) triwulanan (Januari, April, Juli dan Oktober) untuk berlaku selama triwulan berjalan. Apabila diperlukan, perubahan BI Rate juga dapat dilakukan dalam RDG bulanan. Dalam setiap RDG triwulanan yang dilakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi makroekonomi, prakiraan inflasi, dan penentuan respon kebijakan moneter. Dalam RDG bulanan, review atas perkembangan inflasi, nilai tukar, dan kondisi moneter dan likuiditas di pasar dilakukan untuk memonitor dan menilai apakah sesuai dengan prakiraan yang dilakukan dalam RDG triwulanan. Perubahan BI Rate dilakukan dalam kelipatan 25 bps (perubahan dapat 25, 50 ataupun 75 bps sesuai dengan situasi moneter yang terjadi).

BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan mempertimbangkan rekomendasi BI Rate yang dihasilkan oleh fungsi reaksi kebijakan dalam model ekonomi untuk pencapaian sasaran inflasi. Selain itu BI Rate yang ditetapkan juga mempertimbangkan berbagai informasi lainnya seperti leading indicators, survei, informasi anekdotal, variable informasi, expert opinion, asesmen faktor risiko dan ketidakpastian serta hasil-hasil riset ekonomi dan kebijakan moneter.

BI rate diumumkan ke publik segera setelah ditetapkan dalam RDG. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektivitas tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai kestabilan harga sebagai elemen sasaran akhir kebijakan ekonomi makro yang menyeluruh (social welfare).

Photo source : Private collection

About these ads