Tags

, , , , , , , , ,

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter secara bertahap tetapi pasti terus menurunkan suku bunga acuan SBI. Pada tanggal 5 Mei 2009, Bank Indonesia secara resmi memutuskan untuk menurunkan suku bunga SBI sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan perkembangan positif yang terjadi di pasar keuangan global yang mendorong perbaikan risiko di emerging markets, termasuk Indonesia. Penurunan suku bunga SBI tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dengan tetap menjaga kestabilan harga serta sistem keuangan dalam jangka menengah.

Meskipun demikian, penurunan suku bunga SBI tersebut ternyata belum diimbangi dengan penurunan suku bunga kredit oleh perbankan secara signifikan. Secara teoritis, pada saat suku bunga acuan yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) turun, suku bunga simpanan akan ikut turun dan pada gilirannya suku bunga kredit ikut turun. Turunnya suku bunga kredit diharapkan akan meningkatkan permintaan kredit yang dapat menggerakkan sektor riil sehinggga perekonomian menjadi semakin membaik dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagaimana diketahui, struktur pembentuk suku bunga kredit perbankan secara umum terdiri dari empat komponen yaitu suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK), overhead cost, premi risiko, dan ekspektasi keuntungan yang diharapkan. Merujuk pada suku bunga DPK, struktur dana perbankan di Indonesia sebagian besar masih didominasi oleh dana dalam bentuk deposito yang berjangka waktu panjang dan berbiaya mahal. Oleh karena itu, penurunan suku bunga kredit relatif lebih sulit karena bank pada awalnya akan menyesuaikan terlebih dahulu struktur dananya dengan struktur kreditnya dalam rangka mengurangi risiko maturity mismatch.

Sementara itu, komponen overhead cost dapat diturunkan dengan melakukan efisiensi dalam kegiatan operasionalnya. Namun penurunan tersebut tidak terlalu signifikan karena bank juga melakukan penyesuaian kenaikan biaya baik karena ekspansi usaha melalui perluasan jaringan maupun penyesuaian biaya tenaga kerja karena faktor inflasi.

Sedangkan terkait premi risiko, bank akan memperhatikan indikator kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPLs). Hal ini menjadi faktor yang cukup penting bagi kalangan perbankan mengingat tingginya NPLs juga memerlukan cadangan yang lebih besar. Sementara itu, saat ini risiko sektor riil masih tergolong tinggi yang membuat premi risiko juga meningkat.

Terkait dengan hal tersebut, perbankan saat ini cenderung berekspansi untuk kredit konsumtif dan kredit usaha mikro dan kecil yang risikonya relatif rendah. Padahal kredit jenis tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga. Jenis kredit seperti ini lebih mengutamakan kemudahan prosedur dan layanan yang cepat sekalipun tingkat suku bunganya tinggi. Memperhatikan hal tersebut, peningkatan posisi kredit serta usaha mikro dan kecil tidak diikuti mendorong penurunan suku bunga kredit.

Akhirnya, penurunan suku bunga kredit akan sangat tergantung kepada bank itu sendiri dalam menentukan ekspektasi keuntungan yang diharapkan. Jika bank mau menurunkan ekpektasi keuntungan yang diharapkan maka suku bunga kredit perbankan juga akan mengalami penurunan. Di luar hal itu, kebijakan relaksasi peraturan dari pemerintah juga dapat memberikan stimulus bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Percepatan stimulus fiskal akan sangat membantu karena akan turut serta menggairahkan sektor riil sehingga bank tidak lagi menganggap sektor-sektor tertentu termasuk kategori berisiko tinggi.

About these ads