TPID: Sebuah Kisah Transformasi dan Komunikasi

Sungguh, ada banyak kisah perubahan di Bank Indonesia. Namun sebagaimana kitab suci yang hanya mengangkat kisah-kisah terbaik, tulisan ini mencoba mengikutinya dengan mengangkat salah satu kisah perubahan terbaik yang dimiliki Bank Indonesia, kisah tentang Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Saya tergerak menulis tentang TPID karena sesuai dengan peran dan jabatan, sedikit banyak saya terlibat dalam lika-liku proses kelahiran hingga jatuh bangun proses kerja TPID.

Inisiatif pembentukan TPID dimulai sejak 2008 dengan dukungan dari berbagai kalangan, khususnya di daerah. Mempertimbangkan karakter inflasi di Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh sisi penawaran, khususnya inflasi dari harga makanan yang bergejolak (volatile food), pengendalian inflasi memerlukan koordinasi intensif dengan pemerintah, baik pada level pusat maupun daerah. Keanggotaan TPID terdiri terdiri atas berbagai instansi dan otoritas di daerah seperti Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam Negeri (KPw BI DN), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, Badan Urusan Logistik (BULOG), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta pihak-pihak lain yang memiliki kewenangan dan kepentingan dalam pengendalian inflasi. Keanggotaan TPID meski serupa, tapi tidak sama di setiap daerah. Ada beberapa TPID yang melibatkan pelaku usaha seperti Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Real Estate Indonesia (REI), dan asosiasi lainnya. Untuk kepentingan koordinasi, TPID juga dapat mengundang narasumber dari luar anggota TPID sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

berita-letak-geografis-sulitkan-tekan-inflasi-27222_a Continue reading

Unique Feature of Islamic Finance Development

islamic-finance

Islamic finance is one of the fastest growing in the financial industry, both in size and number. According to Economist (September 2014), Islamic finance grew at an annual rate of 17.6% between 2009 and 2013, faster than conventional banking, and is estimated to be $2 trillion in size. However, one of the puzzles of Islamic finance development is how Indonesia, the biggest Muslim country in the world, has been left behind its development.

One of the reasons why the development of Islamic finance in Indonesia is left behind can be seen from its historical profile. Despite its Muslim population, Indonesia is a relatively latecomer to the Islamic finance industry. United Arab Emirates has a head start for Islamic finance since about 20 years, which established the first modern commercial Islamic bank, Dubai Islamic Bank, in 1979. Malaysia started to involve with the Islamic financial system when it introduced Malaysian Pilgrims Fund Board (Tabung Haji) in 1963. The first Islamic bank in Malaysia, Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB), started to operate in 1983.

Continue reading

Batam Bisa Tumbuh Lebih Cepat

Tags

, , , , , , ,

batam-ok-300x191

BATAM – Pertumbuhan ekonomi Kota Batam dinilai masih lambat padahal daerah ini memiliki potensi ekonomi besar dan bisa tumbuh lebih cepat seperti Singapura. Itu disebabkan pengelolaan yang keliru dan pemerintah tidak memiliki visi pembangunan yang terarah.

Salah seorang Calon Legislatif dari Partai Nasional Demokrat, Budi Kaya Utama menjelaskan, pemerintah pusat telah menjadikan Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau Free Trade Zone sejak lama karena potensi Batam yang sangat besar dan bisa tumbuh seperti Singapura. Sayangnya potensi dan fasilitas yang diberikan pemerintah pusat tersebut tidak dikelola dengan baik di daerah sehingga pertumbuhan ekonomi Batam saat ini berjalan biasa biasa saja.

Continue reading

Inflation and The Regional Economic Imbalance

Tags

, , , , , , , , , ,

1390475607723

Inflation in Indonesia is not only a monetary issue or one that occurs simply because of excess demand and can be addressed with monetary policy. More frequently, general price increases are caused by food price volatility or supply shocks that in turn are often caused by poor and inadequate infrastructure, logistics and inefficient supply chains. Regional economic discrepancies make the problem of inflation more complex.

The structure of the regional economy has not undergone significant changes over the last 10 years. Java remains the major driver of national economic growth with a share of 57.65 percent of gross domestic product (GDP), followed by Sumatra with 23.74 percent. The remaining 18.61 percent is contributed by Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali and Nusa Tenggara, according to Central Statistics Agency (BPS) data from May 2014.

Seen from indicators of inflation, Java is still a major contributor to the national inflation rate. Viewed by city, Jakarta contributes 22.49 percent, followed by Surabaya and Bandung with 6.47 percent and 5.38 percent respectively. Meanwhile, if viewed by province, three provinces in Java, namely Jakarta, West Java and Banten, together account for almost 50 percent in the formation of national inflation. This was based on the 2007 Cost of Living Survey prepared by the BPS.

Continue reading

Stok Kebutuhan Pokok Aman

Tags

, , , , , , , ,

SERANG, SNOL–Bank Indonesia (BI) Banten menjamim stok kebutuhan pokok selama Ramadhan dan Idul Fitri 1435 aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dan melakukan aksi borong atau panik buying. Hal itu ditegaskan Manager Bank Indonesia (BI) Banten, M Nuryazidi, Senin (9/6).

Menurut dia, pihaknya akan terus berupaya mengantisipasi kenaikan inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, antara lain dengan memonitor sejumlah pasar tradisional dan beberapa distributor pangan strategis di Banten. “Kegiatan ini dilaksanakan untuk memantau kecukupan pasokan dan kondisi harga kebutuhan pokok sebelum memasuki bulan puasa dan Lebaran,” kata Didi sapaan akrabnya, saat ditemui BANPOS, di ruang kerjanya, Senin (9/6).

Ia mengungkapkan, rata-rata permintaan kebutuhan pokok tahun 2012 mencapai 0,3 hingga 0,5 persen, dan untuk di Mei 2013 mencapai 9,68 persen. Sedangkan untuk periode 1 Januari hingga Mei 2014 mencapai 2,29 persen. “Memang terjadi ada kenaikan harga, namun hal tersebut dikarenakan oleh pola belanja dari masyarakat yang begitu tinggi atau panic buying,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, stok beberapa kebutuhan pokok menjelang bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri aman, artinya ketersediaan bahan pokok masih di atas perkiraan kebutuhan konsumsi. “Misalnya stok beras mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun,” ujarnya.

Continue reading

Masyarakat Jangan Panic Buying

Tags

, , , , , , , ,

BATAM (HK) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam menghimbau kepada masyarakat Batam agar tidak panik ‘buying’ atau membeli kebutuhan pokok berlebihan. Sehingga kenaikan harga bisa ditekan.

Demikian disampaikan Humas Kantor Bank Indonesia (KBI) Batam Nuryazidi, Rabu (4/7).

Disebutkan Nuryazidi, kenaikan harga menjelang Ramadhan merupakan hal yang lumrah dan terjadi setiap tahunnya. Namun, untuk menekan lonjakan harga, masyarakat harus lebih cermat menghadapinya yaitu tidak melakukan panik ‘buying’.

“Menjelang Ramadhan, biasanya harga-harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, meskipun tidak spontan. Hal itu harus diantisipasi olah konsumen agar kenaikan tidak signifikan, yaitu tidak panik ‘buying’,” ujar Nuryazidi.

Continue reading

BPRS Cilegon Mandiri Resmikan Kantor Kas

Tags

, , , , , , , ,

 

timthumb.php

CILEGON, BANPOS – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Cilegon Mandiri (CM) yang berdiri sejak 12 tahun lalu kembali melebarkan sayapnya dengan membuka Kantor Kas di Cilegon, Rabu (7/5). Berlokasi di Jalan Kubang Laban Pengantungan Baru, Kota Cilegon, kantor kas ini dioperasikan guna memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.

Peresmian ini dihadiri oleh Wakil Walikota Cilegon Edi Hariadi, Manajer Bank Indonesia cabang Banten Muhammad Nuryazidi, Direktur BPRS CM Tb Abdul Nasser dan para undangan dari jajaran pemerintahaan Kota Cilegon.

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita yang dilakukan oleh Wakil Walikota Cilegon didampingi oleh Manager Bank Indonesia cabang Banten dan Direktur Bank Syariah Cilegon Mandiri.

Continue reading

Inflasi Batam 2,02 Persen

Tags

, , , , , ,

Kota Batam mengalami inflasi sebesar 2,02 persen. Angka ini menurun dari tahun 2011 yakni sebesar 3,76 persen.

Humas Bank Indonesia Batam, Mohammad Nuryazidi menyebutkan angka tersebut terbilang bagus.
Alasannya, tidak ada kenaikan harga yang mencolok dibanding tahun 2011.

“Inflasi itu menunjukkan harga kebutuhan masyarakat relatif stabil. Daya beli masyarakat juga tetap tinggi,” kata Nuryazidi.

Nuryazidi menambahkan besar inflasi ini lebih rendah dibanding angka inflasi nasional tahun 2012 sebesar empat persen. Data Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau menyebutkan, inflasi Batam selama bulan Januari sampai Desember 2012 ketiga terendah dari kota-kota di Sumatra dan sekitarnya.

Dua kota yang inflasinya lebih rendah adalah Banda Aceh (0,06 persen) dan Lhokseumawe (0,39). Di wilayah itu, inflasi tertinggi selama 2012 dialami Pangkal Pinang, sebesar 6,57 persen.

Sedangkan di Kota Tanjungpinang, inflasi selama 2012 sebesar 3,92 persen.(eks)

Sumber : Batam Pos

BI Banten Luncurkan Gerakan Keuangan Inklusif

Tags

, , , , ,

BI Banten Luncurkan Gerakan Keuangan Inklusif

Serang (AntaraBanten) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Banten bekerja sama dengan perbankan Banten akan meluncurkan “Gerakan Keuangan Inklusif 2013”, yaitu suatu program komprehensif untuk meningkatkan akses masyarakat kepada jasa pelayanan perbankan.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten Ilhanuddin Wahab di Serang, Kamis, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengakses dan berinteraksi dengan perbankan di provinsi Banten yang dikemas sedemikian rupa yang digelar pada pameran “Banten Expo 2013, 20-23 September.

Pameran yang diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Hari ulang tahun (HUT) Provinsi Banten yang genap berusia 13 tahun pada 4 Oktober mendatang itu, BI Perwakilan Provinsi Banten ikut memeriahkannya dengan menggelar berbagai acara menarik.

Continue reading

Warehouse Receipts Boost Farmer’s Clout

Tags

, , , , ,

photo_gallery_10

Inflation release issued by the Central Statistics Agency showed relatively low inflation rate in the month of March 2014 which stood at 0.08%, much lower than the previous month recorded 0.26% due to supply disruptions. Foodstuffs to be the only group of commodities experienced deflation with a rate of 0.44%. Deflation that occurred in this group is influenced by harvest that occurred in various regions.

At first glance, the figures above show an encouraging indicator. But if we look more deeply, the abundance of supply at harvest contain some issues. From the side price movement, when supply is plentiful, the price of a commodity becomes very low. But not long after, when the harvest was over and began entering the plant, the price goes up high because supply are running out.

From the side of farmers, lower prices of their commodities at harvest would not be enjoyable because the profits they get less. Had they could hold the commodity for longer, they can sell the commodity at a better price.

Continue reading