Tags

, , ,

Di langgar Kidul, Kauman, Yogyakarta, 100 tahun silam, KH Ahmad Dahlan bersila takzim. Belasan santri duduk melingkar menghadap sang kiai. Malam itu, seperti juga pada pengajian sebelumnya. Kiai Dahlan lagi-lagi mengajarkan surat Al-Ma’un, yang antara lain berisi perintah menyantuni yatim  piatu dan fakir miskin. Merasa bosan dengan pelajaran yang itu-itu saja, seorang santri memberanikan diri bertanya, “Kiai, kenapa tidak ada penambahan pelajaran?” Yang ditanya malah balik bertanya, “Apakah kamu sudah mengerti betul?” Dengan suara mantap, sang santri menjawab, “Kita sudah hafal semua, Kiai.”

Dan Kiai Dahlan pun balik bertanya, “Kalau sudah hafal, apakah sudah kamu amalkan?” Santri itu berucap, “Bukankah surat Al-Maun berungkali kami baca untuk rangkaian Al-Fatihah di kala salat.” Jawaban si santri tidak memuaskan sang kiai. “Bukan itu yang saya maksud. Diamalkan artinya dipraktekkan, dikerjakan!” Kiai Dahlan menegaskan. Saat itu pula Kiai Dahlan memerintahkan santrinya berkeliling kampung mencari orang miskin. Kalau sudah ketemu, harus dibawa ke rumah masing-masing. “Berilah dia sabun yang baik untuk mandi! Berilah pakaian yang bersih. Berilah makanan dan minuman serta tempat tidur!” perintah Dahlan. Titah Kiai Dahlan tersebut mengisyaratkan bahwa Islam bukan hanya ritual ibadah saja. Tapi Islam adalah bekerja, agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Jika Kristen punya etika protestan yang menjadi spirit kapitalisme di Eropa barat sebagaimana yang diketemukan Max Weber dalam The Protestant Ethics And The Spirit of Capitalism (1937), maka Islam juga punya etos bisnis yang bahkan menurut Perter L Bernstein, mengungguli etos bisnis bangsa manapun di dunia ini (The Power of Gold, John Wiley and Sons, 2000).

By nature dan by teaching, Islam sangat mendorong entrepreneurship. Islam adalah agama kaum pedagang. Lahir di kota dagang, dan disebarkan ke nusantara oleh kaum pedagang. Nabi Muhammad SAW dan sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara. Tidak berlebihan karenanya bila dikatakan bahwa etos entrepreneurship sudah melekat dan inheren dengan diri umat Islam. Islam mengangkat derajat kaum pedagang sehingga profesi ini yang pertama mendapat kehormatan untuk membayar zakat.

Sejarah penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia, sampai abad ke-13 M dilakukan oleh para pedagang muslim. Hal ini menjadi bukti lain bahwa etos bisnis (dagang) kaum muslim sangat tinggi, yang menyeruak hingga mancanegara. Termasuk keberadaan Islam di Indonesia. Adalah para pedagang yang membawa dan menyebarluaskannya. Selain ilmu agama, mereka juga mewariskan keahlian berdagang ke masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat pesisir.

Dalam Peddlers and Princes (1963), Clifford Greetz menyatakan bahwa di kalangan pribumi kepeloporan di bidang perdagangan berada di tangan para santri. Pedagang dan pengusaha di Mojokuto, selain orang Cina, pastilah santri reformis. Di luar perusahaan-perusahaan yang dimiliki Cina, semuanya adalah milik orang Islam reformis atau yang terpengaruh oleh gagasan reformisme Islam. Pada bagialn lain dari penelitiannya pada 1950-an itu, Greetz menjelaskan bahwa reformisme dan puritanisme Islam merupakan doktrin bagi hampir semua pengusaha dan entrepreneur di sana. Watak kehidupan puritan yang asketik ini mengajarkan kesalehan yang paling tinggi ialah selain iman itu sendiri, seseorang yang sudah beriman harus banyak beramal saleh. Sebuah dorongan yang dalam istilah Weberian disebut religious calling.

Kuntowijoyo dalam penelitiannya  mengenai para pengusaha kerajinan besi di Batur, Klaten, juga melihat adanya hubungan yang erat antara kehidupan keagamaan para santri dan perilaku kewirausahaan mereka. Puritanisme Islam, di samping menganut sikap hidup asketisme, juga memiliki doktrin mewajibkan para pengikutnya untuk lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam usaha ekonomi. Bekerja dianggap sebagai makna yang sebenarnya dari Al-Quran dan hadis.

Tidak hanya itu, semangat kapitalisme sempat menjadikan penyokong bagi kongsi-kongsi Islam dari orang-orang Melayu di Aceh, dari orang-orang Palembang, dan juga etnis Bugis di Sulawesi. Organisasi pergerakan Sarekat Dagang Islam, adalah salah satu bukti bahwa semangat kapitalisme umat Islam ikut mendorong terjadinya perubahan ekonomi, social, dan politik bangsa ini.

Sementara itu organisasi massa Islam yang sampai sekarang masih eksis seperti Muhammadiyah tidak lain sesungguhnya didirikan oleh para saudagar santri dan para pedagang di kota-kota. Sejarah Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan bangkitnya kekuatan ekonomi para saudagar, seperti pengusaha tekstil atau tenun di Pekajangan, Pekalongan, dan yang ada di daerah Laweyan, Surakarta.

Demikian pula Nahdlatul Ulama (NU), yang sejatinya didahului dengan gerakan organisasi Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan  Kaum Pedagang). Menurut peneliti NU, Martin van Bruinessen, orientasi bisnis NU itu juga dipengaruhi oleh visi Sarikat Islam (SI). Wahab Chasbullah penggerak penting NU, pernah terlibat di SI sejak masih belajar di Mekkah. Komposisi pengurus NU periode pertama merupakan kolaborasi ulama (di Syuriah) dan pengusaha (di Tanfidziyah).

Sejarah panjang Islam di Indonesia menunjukkan adanya potensi umat Islam untuk memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian bangsa. Saat ini, ketika gerakan ekonomi syariah mulai menggeliat. Yakni ditandai dengan kehadiran lembaga-lembaga keuangan yang dikelola secara Islami. Memang hasil gerakan ekonomi syariah itu tidak serta merta terlihat. Hanya saja, adanya keberpihakan ini bisa dijadikan momentum untuk mendorong atau merekonstruksi kembali tumbuhnya jiwa kewirausahaan umat Islam di Indonesia.

(Dimuat di Harian Batam Pos, 3 November 2006)