Tags

, , ,

Pada jamannya, Imam Abu Hanifah sering membuat bingung murid-muridnya karena sering membahas permasalahan-permasalahan yang belum terbayang oleh murid-muridnya. Jauh sebelum kapal selam ditemukan, ahli fikih yang satu ini sudah membahas mengenai cara shalat di dasar laut. Dan ketika ditanya oleh murid-muridnya mengapa dia membahas sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada saat itu, dia menjawab bahwa hal itu ia lakukan agar bila nanti masalah itu benar-benar terjadi kita sudah mengerti masalah itu, syukur-syukur sudah menemukan jalan keluarnya.

Apa yang dilakukan Abu Hanifah pada jamannya itu mungkin membuat murid-muridnya bingung. Namun ketika kita melihat realitas yang ada di di depan kita. Bahwa teknologi berkembang dengan begitu pesat. Bahwa kecepatan teknologi melesat begitu cepatnya jauh di atas kemampuan manusia untuk membuat solusi dari efek negatifnya (Horvits, 2007). Orang-orang sejenis Abu Hanifah ini mungkin justru yang dibutuhkan jaman. Orang yang mau memandang jauh ke depan dan mengantisipasi segala permasalahannya dari sekarang.

Memulai dari Akhir dan Berani Berijtihad

Membangun kepribadian progresif, dalam Islam, dapat dilakukan dengan “memulai dari yang akhir”. Kita harus memulai di mana kita kelak akan berakhir. Akhir kita, ada di akhirat, maka dari sana kita memulai menarik garis perjalanan kita. Karakter ajaran dan ajaran yang disampaikan Islam selalu mengingatkan akhirat sebagai muara akhir kehidupan. Bila Al-Quran sedang membahas tentang kehidupan dunia, seringkali tiba-tiba kemudian menghubungkannya dengan kehidupan akhirat. Kadang kita diajak merenungkan bagaimana kehidupan dunia ini, alam semesta yang indah, lalu tiba-tiba kita dibawa ke alam lain, ke alam akhirat. Demikian pula hadis Nabi Muhammad SAW, tidak jarang menyinggung masalah akhirat, untuk kemudian membahas tentang masalah keduniawian. Hadis tentang menghormati tamu diawali dengan peringatan kepada hari akhir, ”barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tamumu”.

Selain itu, kenyataan bahwa Islam mengajarkan sikap progresif adalah terbukanya pintu ijtihad. Ini merupakan landasan yang sangat kokoh bagi umat Islam agar menjadi umat yang antisipatif. Islam merupakan agama yang paling siap menghadapi segala perubahan zaman.. Tergantung kecakapan pengikutnya dalam mentelaah dalil-dalil agama Islam, termasuk  melakukan ijtihad, termasuk melakukan ijtihad untuk berbagai hal baru yang terus berkembang. Penemuan teknologi kontemporer mulai dari astronomi sampai teori mekanika kuantum ala Einstein sejatinya merupakan sesuatu yang sudah “diceritakan” dalam kitab suci umat Islam. Dan ijtihad ini hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa yang punya kekuatan antisipatif dan punya kemandirian ilmu yang memadai.

Pribadi yang Antisipatif

Islam bukanlah ajaran yang semata-mata melemparkan pengikutnya ke masa lalu, ke masa dimana Rasulullah hidup. Tapi Islam juga mengajarkan bagaimana menghadapi kenyataan sekarang dan jauh memandang ke masa yang akan datang. Semangat ini salah satunya nampak dari cara Islam menjanjikan balasan di surga. Kesenangan surga sebagai balasan yang dijanjikan selalu dijelaskan dengan penggambaran fisik dan dengan penjelasan kenikmatan yang tervisualisasi dengan jelas. Meskipun, secara kualitas, kesenangan surga seperti kata Rasulullah adalah kesenangan yang belum pernah terlihat, belum pernah dirasakan oleh manusia, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Tapi penggambaran yang sangat visualistik seperti sungai-sungai yang mengalir, bidadari, atau minuman dari susu, tidak lain dalam rangka membangkitkan umatnya agar menyadari bahwa kesenangan utama adalah di surga. Kesadaran yang sangat kokoh tentang hal ini, akan menguatkan kapasitas antisipatif seorang mukmin. Sebab, pada dasarnya ia akan berusaha dengan sangat keras, ketika menikmati kesenangan dunia, tetap dalam koridor jalan menuju pengharapan akan kesenangan akhirat. Islam dalam batas tertentu, telah memberi kabar tentang beberapa peristiwa tertentu yang akan terjadi di zaman mendatang. Misalnya, tentang tanda-tanda hari kiamat, tentang peristiwa-peristiwa tertentu di akhir zaman.

Kita harus mengubah diri kita menjadi pribadi muslim yang antisipatif, bukan pribadi muslim yang reaktif. Sudah menjadi sunnatullah, ruang reaksi seharusnya hanya untuk hal-hal yang benar-benar tidak bisa diduga, tidak bisa dirancang. Dan itu biasanya berbentuk musibah yang murni musibah. Menjadi muslim yang progresif bukan berarti menjadikan kita mendahului takdir. Namun menjadi muslim yang lebih mendahulukan solusi dari pada masalah, punya tujuan yang jelas untuk memaksimalkan kualitas hidup.

(Dimuat di Harian Sijori Mandiri)