Tags

, , , ,

Bulan suci Ramadhan tinggal menghitung hari. Terlepas dari baik atau buruk secara agama, namun berdasarkan trend data ekonomi, menjelang bulan suci Ramadhan permintaan masyarakat meningkat tajam khususnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan bahan makanan maupun makanan jadi. Dan sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, ketika permintaan meningkat tanpa diikuti peningkatan dari sisi penawaran maka yang terjadi adalah kenaikan harga. Kenaikan harga ini apabila terjadi pada begitu banyak komoditas pada suatu waktu sehingga secara agregat menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya disebut dengan inflasi.

Setidaknya ada beberapa kelompok masyarakat yang dirugikan akibat adanya inflasi. Yang pertama adalah konsumen dengan penghasilan tetap atau relatif tetap seperti pegawai atau pensiunan. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak jarang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan gaji atau pendapatan kelompok masyarakat ini. Kelompok lain yang dirugikan dengan adanya inflasi adalah pedagang. Inflasi menghantam pedagang dari dua sisi. Pertama, inflasi merugikan pedagang karena daya beli masyarakat terhadap produknya menurun. Kedua, terjadi kenaikan harga barang modal dan biaya produksi.

Inflasi Batam Menjelang Ramadhan

Karakteristik angka inflasi di Kota Batam secara konsistan selalu lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional. Hal ini berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia yang angka inflasinya relatif tinggi bahkan tidak jarang berada di atas angka inflasi nasional. Namun perlu juga diperhatikan bahwa data inflasi adalah data kenaikan harga dari satu periode ke periode berikutnya. Yang menjadi perhatian dalam data inflasi adalah kenaikan harga. Padahal harga barang-barang kebutuhan pokok di Kota Batam relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok di kota lain. Hal ini menjadi alasan mengapa inflasi di Kota Batam relatif lebih rendah dibandingkan dengan kota lain di Indonesia karena harga dasar barang kebutuhan pokok di Kota Batam sudah cukup tinggi.

Berdasarkan pengamatan dari trend data inflasi di Kota Batam, menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, angka inflasi Kota Batam relatif tinggi. Kita ambil contoh di tahun 2008 dimana bulan Ramadhan jatuh pada bulan September. Angka inflasi Kota Batam pada bulan tersebut secara tahunan sebesar 8,91% (perbandingan antara indeks harga di bulan September 2007 dengan bulan September 2008 biasa dinotasikan dengan year on year) padahal rata-rata inflasi bulanan pada tahun 2008 adalah 7,32% (year on year). Kemudian kita lihat data inflasi di tahun 2007 dimana bulan Ramadhan kebetulan jatuh pada bulan Oktober. Inflasi tahunan pada Oktober 2007 tercatat sebesar 5,56% (year on year) sementara rata-rata inflasi bulanan pada tahun 2007 adalah 5,32% (year on year).

Kenaikan harga yang cukup tinggi tersebut dapat dimengerti dari pola konsumsi masyarakat yang relatif mengalami kenaikan pada bulan Ramadhan. Ketika memasuki bulan Ramadhan masyarakat cenderung melakukan belanja besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan saat berbuka puasa dengan menu “istimewa”. Kenaikan permintaan masyarakat yang cukup tinggi ini mengerek harga pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Ekspektasi Inflasi

Sayangnya, gejala ini menjadi semacam tradisi bagi masyarakat sehingga muncul anggapan bahwa menjelang Ramadhan harga akan mengalami kenaikan. Akibatnya pada saat menyambut bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat adalah memborong barang kebutuhan bulan ramadhan secara besar-besaran. Hal ini dipengaruhi oleh anggapan masyarakat akan tradisi kenaikan harga yang terjadi menjelang dan pada saat Ramadhan.

Anggapan masyarakat bahwa akan terjadi kenaikan harga pada saat tertentu ini dalam istilah ekonomi disebut ekspektasi inflasi. Padahal ekspektasi ini justru menyebabkan kenaikan harga yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga sebenarnya. Pembelian besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat menjelang bulan puasa atau yang disebut juga panic buying ini secara agregat menaikkan permintaan secara besar-besaran pula. Kenaikan permintaan yang cukup besar tersebut ketika tidak dibarengi oleh peningkatan penawaran yang sepadan akan mengakibatkan kenaikan harga yang cukup tinggi. Sayangnya, hal inilah yang terjadi setiap tahun menjelang bulan Ramadhan.

Pola Belanja

Alangkah indah sebenarnya nasehat para ulama yang menganjurkan kita untuk berbuka puasa dengan menu yang tidak berlebih-lebihan. Namun berbuka dengan menu yang sederhana atau sama seperti apa yang makan di luar bulan Ramadhan. Secara ibadah, hal ini merupakan salah satu esensi dan pelajaran dari puasa yaitu melatih untuk hidup sederhana. Dan secara ekonomi apabila nasehat para ulama tersebut dilaksanakan akan berdampak pada kestabilan harga khususnya menjelang bulan Ramadhan.

Dengan tidak mengubah pola belanja kita menjadi lebih konsumtif menjelang bulan Ramadhan secara ekonomi kita tidak “mengusik” kestabilan harga pasar. Hukum permintaan dan penawaran akan berjalan normal, demikian pula pergerakan harga akan berkembang secara wajar. Apabila pola belanja normal yang terjadi maka kenaikan harga yang tinggi akan terjadi apabila ada shock yang cukup besar dari supply barang kebutuhan pokok seperti terjadi bencana alam dari daerah asal barang kebutuhan pokok.

Kenaikan harga menjelang Ramadhan di Kota Batam sudah menjadi semacam tradisi yang tentu saja sedikit banyak merugikan masyarakat. Oleh karena itu, tradisi itu sedapat mungkin diakhiri. Untuk itu, mari kita mulai pada Ramadhan tahun ini dengan berbelanja sewajarnya dan tidak melakukan panic buying. Jika kita sudah memulainya pada satu periode, bukan tidak mungkin tradisi kenaikan harga tinggi yang terjadi setiap menjelang Ramadhan bisa berakhir.

(Dimuat di Harian Batam Pos, 15 Agustus 2009)