Tags

, , ,

“Ramadhan itu seperti hadiah tendangan pinalti dalam permainan sepak bola,” demikian kata seorang ulama menjelang shalat tarawih pertama di sebuah pesantren Jawa Timur.

Piala dunia 2006 rasanya masih belum lekang dari ingatan kita. Kisah tandukan kepala Zidane sampai drama adu pinalti Italia lawan Perancis di partai puncak tidak mudah untuk kita tanggalkan dari bayangan kita. Sepak bola adalah olah raga yang rasanya lebih mirip dengan peperangan (war) berbeda dengan basket misalnya,yang lebih mirip dengan pertempuran (battle). Dalam sepak bola, pertempuran terjadi di setiap sisi lapangan,mulai dari barisan pertahanan di lini belakang melawan ujung tombak penyerang lawan, atau di lapangan tengah dimana para jenderal pengatur serangan saling beradu taktik. Gol merupakan hasil kerja keras setiap pemain, mulai dari penjaga gawang di belakang sampai dengan striker di depan. Bandingkan dengan basket yang point demi point dapat didulang dalam waktu yang relatif lebih singkat. Gol adalah sebuah hasil dari proses yang panjang.

Hadiah tendangan pinalti dalam sebuah pertandingan sepak bola merupakan anugerah besar bagi tim yang menerimanya. Kesebelasan penerima hadiah pinalti mempunyai kesempatan untuk menciptakan gol dengan relatif lebih cepat dan kesempatan yang relative lebih besar pula. Tak perlu lagi ada pengaturan serangan dari tengah, atau umpan panjang dari barisan pertahanan ke para penyerang di depan, maupun kombinasi penyerangan dari kedua sayap untuk menusuk jantung pertahanan lawan. Cukup seorang pemain “berkaki dingin” di kotak pinalti untuk merobek jala gawang tim lawan. Dibandingkan dengan serangan reguler yang menguras tenaga, tendangan pinalti merupakan short cut yang jelas jauh lebih hemat energi.

Ramadhan adalah bulan yang istimewa diantara sebelas bulan lain dalam penanggalan hijriah. Begitu banyak keutamaan yang diberikan Allah pada makhlukNya di bulan Ramadhan yang tidak diberikan Allah pada bulan lain. Ramadhan adalah bulan dengan banyak cerita istimewa. Mulai dari malam turunnya mukjizat terbesar dalam sejarah, sampai dengan malam lailatul qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang full berkah. Ramadhan merupakan bulan pemberian kasih sayang, bulan diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, bulan yang diliputi rahmat di sepertiga bulan yang pertama, dipenuhi dengan ampunan pada sepertiga berikutnya, dan dijauhkan dari siksa neraka pada sepertiganya yang terakhir. Bulan Ramadhan layaknya paket yang penuh dengan menu-menu spesial yang secara eksklusif disajikan hanya pada bulan ini, bagi orang yang beriman.

Di awal Ramadhan Nabi Muhammad SAW memberikan wasiat, “Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakn olehNya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amalmu diterima dan doa-doamu dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah Tuhanmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitabNya.” Pada kesempatan lain, Rasulullah bersabda bahwa kita, sebagai umatnya, selama bulan Ramadhan diberikan lima keutamaan yang tidak diberikan pada umat nabi lain. Pertama, di awal Ramadhan Allah berkenan mengunjungi kita yang sedang bersiap-siap untuk berpuasa. Padahal barangsiapa yang didatangi Allah, kata Rasulullah, orang tersebut tidak akan diadzab selama-lamanya. Tentunya, tidak semua orang akan dikunjungi olehNya. Tapi kesempatan itu ada dan hal itu sudah dijanjikan oleh nabiNya buat kita. Keutamaan yang kedua adalah bau mulut kita di sore hari bulan Ramadhan, di sisi Allah lebih harum dari minyak wangi. Begitu tinggi penghargaan Allah bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, hingga bau mulut kita yang tidak sedap disejajarkan dengan bau parfum. Keutamaan ketiga, kata Nabi, malaikat memohonkan ampun bagi kita siang dan malam. Dosa kita yang menumpuk, yang bahkan kita sendiri kadang tidak sempat memohonkan ampun untuk itu, di bulan Ramadhan dimintakan ampun oleh para malaikat siang dan malam. Keempat, Allah memerintahkan surgaNya untuk bersiap-siap dan berhias diri untuk tempat peristirahatan kita di bulan Ramadhan. Kelima, Allah mengampuni kita di setiap akhir malam Ramadhan. Lagi-lagi sebuah kemurahan Allah bagi hambaNya yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Alangkah sangat disayangkan jika kita tidak bisa memanfaatkan Ramadhan untuk mencuci jiwa dan dosa kita, untuk menambah tabungan pahala kita, dan untuk merengkuh berkahNya. Melalui bulan Ramadhan, Allah memberi kita hadiah tendangan pinalti dengan cuma-cuma. Jika dalam sepak bola, tendangan pinalti itu bisa lahir karena ada pelanggaran atau kesalahan tim lawan di kotak pinalti, maka Ramadhan datang pada kita setiap tahun tanpa kecuali. Adalah tindakan yang amat naif jika kita menunda kesempatan menendang hadiah pinalti itu pada tahun berikutnya, karena tidak ada jaminan bahwa kita akan kembali mendapatkan hadiah itu tahun depan.

Marilah kita manfaatkan hadiah pinalti ini semaksimal mungkin, semampu jiwa dan raga kita. Sebagai makhluk Allah yang sering membuat kerusakan, memproduksi dosa, hampir setiap hari, sepantasnyalah kita memanfaatkan Ramadhan untuk mencuci jiwa dan dosa kita. Adalah manusia selevel Nabi Muhammad sekalipun masih tetap gigih memanfaatkan Ramadhan. Istri beliau, Siti Aisyah menceritakan bagaimana Rasulullah begitu sibuk ketika menghadapi sepuluh hari terakhir Ramadhan. Mari manfaatkan hadiah pinalti Ramadhan untuk menciptakan gol, untuk meraih kemenangan.

Tentu kita tidak ingin mengulangi kesalahan Roberto Baggio di Piala Dunia 1994 yang gagal membobol gawang Brazil dalam drama adu pinalti di partai final. Mari kita manfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, sehingga sabda Rasulullah yang terkenal, bahwa siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah, niscaya Allah mengampuni segala dosanya, tidak sia-sia bagi kita. Kita dapat keluar dari Ramadhan seperti bayi yang baru lahir, suci dari segala dosa.

Ramadhan memang bulan spesial, rasanya memang tak salah jika K.H. Ahmad Shiddiq, mantan Rais Syuriah PBNU menganalogikan Ramadhan dengan hadiah tendangan pinalti.

(Dimuat di Harian Batam Pos, 15 September 2006)