Tags

, , , , , , ,

Sebelum membahas tentang neoliberalisme, mari kita tarik ke belakang pembahasan ini kepada konsep liberalisme sebagai ide awal dari neoliberalisme.  Dan sebelumnya lagi, kita juga perlu mempertegas bahwa liberalisme bukan kapitalisme.  Liberalisme sejatinya dalah konsep filsafat bukan konsep ekonomi. Bahwa kemudian konsep ini kemudian bersinggungan dengan ekonomi adalah persoalan lain.

Oleh C.A.J Coady dalam Distributive Justice (1995) liberalisme didefinisikan sebagai suatu etika sosial yang menganjurkan kebebasan dan kesetaraan secara umum. Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Mengutip Lord Acton, “Kebebasan itu sendiri bukanlah sarana untuk mencapai tujuan politik yang lebih tinggi. Ia sendiri adalah tujuan politik yang tertinggi.”

Sedangkan bagi John Locke, filsuf abad 18, kaum liberal adalah orang-orang yg memiliki hak untuk ‘hidup, merdeka, dan sejahtera’. Orang-rang yang bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk dalam kebebasan untuk ‘hancur’, bebas hidup tanpa tempat tinggal, bebas hidup tanpa pekerjaan.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu.

Persinggungan liberalisme dengan kapitalisme ala Adam Smith terjadi ketika konsep ini membahas tentang ekonomi. Gagasan liberalisme klasik terhadap kegiatan ekonomi adahal sebuah kegiatan yang bukan digerakkan oleh komando, tetapi oleh harga dalam dinamika perimbangan pasokan dan permintaan (demand and supply). Sejatinya mekanisme tersebut bukan hanya untuk mengatur kegiatan ekonomi, tetapi juga untuk mengorganisasikan seluruh kegiatan masyarakat.

Dari aspek ekonomi pula, liberalisme memperoleh tambahan kata “neo” yang kemudian dipelopori oleh Milton Friedman. Gagasan ini disambut oleh Robert Nozick di Amerika Serikat pada tahun 1975 dengan mengeluarkan tulisan berjudul “Anarchy, State, and Utopia.” Tulisan ini mengusung konsep retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran Locke yang kemudian disebut dengan istilah “Reaganomics”. Di Inggris, Keith Joseph menjadi arsitek “Thatcherisme” yang mengaitkan dengan pemikiran liberal klasik Mill dan Smith. Walaupun sedikit berbeda, tetapi kesimpulan akhirnya sama: intervensi negara harus berkurang sehingga individu dapat lebih bebas berusaha.

Neoliberlisme kembali menjadi diskursus ketika terjadi Konsesus Washington dalam menyikapi krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Latin pada pertengahan 1980-an terutama yang menimpa tiga negara besar yaitu, Meksiko, Brasil, dan Argentina. Para ekonom yang terlibat dalam diskursus tersebut semuanya bermukim di Washington yang terdiri dari IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Konsesus Washington menghasilkan setidaknya tiga rekomendasi kebijakan bagi negara di Amerika Latinyang mengalami krisis ekonomi yaitu kebijakan fiskal yang disiplin dan konservatif, privatisasi BUMN dan sistem ekonomi pasar bebas (Stiglitz 2002).

Pada akhirnya, jika kita  merujuk pada Konsesus Washington, aplikasi neoliberalisme “hanya” merupakan sebuah formula generik yang bisa saja mengandung hal-hal yang baik seperti disiplin fiskal dan prioritas belanja pemerintah. Namun dalam penerapannya, formula tersebut tentu harus memperhatikan konteks situasi dan waktu yang sesuai sehingga sebuah kebijakan ekonomi dapat berhasil dalam mencapai tujuannya, yaitu kesejahteraan bagi masyarakat.