Tags

, , , , , ,

Sufiya Khatun, seorang janda beranak dua di Desa Jobra, Bangladesh, adalah seorang pembuat kursi bambu yang sangat indah. Namun dia hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp180 per hari. Sufiya adalah orang yang bekerja keras namun tetap miskin karena tidak memiliki aset pada sejumlah kecil modal—yaitu tiadanya akses pada modal awal. Ada jutaan Sufiya Khatun di Bangladesh kala itu, sampai kemudian M. Yunus datang dengan konsep Grameen Bank-nya.

Grameen Bank adalah sebuah contoh pemberdayaan ekonomi perempuan yang cukup berhasil. Berawal dari 27 dollar AS yang dipinjamkan M. Yunus kepada 42 orang di Desa Jobra, kini Grameen Bank beroperasi di 39.000 dari 68.000 desa di Bangladesh, melayani 2,4 juta debitur. Salah satu hal yang menarik adalah 94 persen debitur tersebut adalah perempuan seperti Sufiya Khatun. Oleh karena itu program ini kemudian tidak hanya dipandang sebagai gerakan ekonomi, namun juga dipandang sebagai gerakan sosial berdimensi gender.

Dalam pemahaman konvensional, bank cenderung menghindari debitur perempuan, melalui Grameen Bank, M. Yunus membalikkan pemahaman tersebut. Grameen Bank justru merangkul perempuan. M. Yunus memandang perempuan adalah debitur dengan kategori low risk dalam mengembalikan pinjaman bila dibandingkan dengan laki-laki. Dan hal ini terbukti dari 94 persen debitur Grameen Bank yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebagai debitur bertanggung jawab yang membayar kembali tepat waktu.

M. Yunus menyadari bahwa perempuan itu ternyata bisa mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda dengan keterampilan minimum sekalipun. Dengan memperbaiki kondisi hidup kaum perempuan, diharapkan ada penguatan terhadap mereka sebagai pengawal institusi yang paling mendasar dalam mata rantai pendidikan generasi manusia, keluarga. Sesungguhnya para perempuan adalah pembela keluarga dengan segala ketekunan, ketelitian dan kesungguhannya. Perhatian perempuan lebih besar dalam menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, dan biasanya perilakunya lebih konsisten dari laki-laki. Memperhatikan hal tersebut, dapat diketahui bahwa perempuan merupakan salah satu unsur pokok dan penggerak roda perekonomian yang sangat potensial.

Selain itu, Grameen Bank menunjukkan bahwa kesetaraan jender dapat menciptakan mekanisme ekonomi yang memberi akses kepada perempuan sehingga menjadi tenaga yang produktif. Daya tawar perempuan penerima kredit Grameen Bank akan mengalami peningkatan dalam keluarga. Hal tersebut bila diukur dari perasaan terhadap besarnya sumbangan pada sumber daya keluarga dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut di dalam kredit Grameen. Kegiatan ekonomi mereka dalam ikut serta menghasilkan pendapatan tunai telah meningkatkan rasa percaya diri khususnya apabila terjadi sesuatu yang tidak diingikan dalam keluarga.

Melalui Grameen Bank, M. Yunus membangun sistem untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat. Ia tidak hanya menginspirasi masyarakat Bangladesh, tetapi
juga masyarakat dunia. Terinspirasi dari Grameen Bank serta semangat emansipasi yang telah disuarakan RA Kartini sejak awal abad 20, perempuan Indonesia seharusnya dapat lebih berperan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui peningkatan perannya di sektor ekonomi produktif.