Tags

, , , , , , , , , ,

Dinamika perekonomian global masih diliputi oleh nuansa ketidakpastian yang tinggi yang tercermin dari perubahan yang berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi kedalamannya. Harga komoditas yang sempat melejit di awal tahun 2008 secara cepat mengalami pembalikan arah seiring dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang tajam di penghujung tahun 2008.

Seiring dengan meningkatnya intensitas krisis keuangan global, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara maju, terutama AS sebagai episentrum krisis, mengalami penurunan tajam. Kontraksi ekonomi di AS didorong oleh melemahnya kegiatan konsumsi dan investasi masyarakat yang dipicu oleh penurunan tajam nilai aset dan kekayaan rumah tangga, serta terhambatnya akses kredit untuk pembiayaan konsumen sebagai imbas dari meningkatnya intensitas krisis kredit perumahan (subprime mortgage).

Sementara itu negara-negara di kawasan Eropa juga mengalami perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh pelemahan konsumsi dan investasi swasta yang didorong oleh ketatnya kondisi keuangan yang berdampak pada penurunan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Di samping itu, efek negatif dari kejatuhan harga ekuitas dan perumahan pada akhirnya turut pula menghambat kegaitan konsumis dan investasi di kawasan Eropa.

Perkembangan ekonomi dunia yang terus memburuk dan belum munculnya tanda-tanda akan segera berakhirnya krisis global menyebabkan proyeksi perekonomian Indonesia ini dilakukan dalam nuansa ketidakpastian yang tinggi. Seiring dengan meningkatnya intensitas krisis keuangan global, hasil asesmen terhadap konstelasi perekonomian domestik secara keseluruhan menunjukkan adanya potensi risiko penurunan kinerja perekonomian domestik terkait dengan meningkatnya intensitas krisis keuangan global. Dampak krisis dipastikan akan memberikan tekanan yang cukup signifikan tidak saja pada perekonomian domestik jangka pendek, namun juga akan mempengaruhi lintasan variabel-variabel kunci ekonomi makro dalam jangka menengah.

Meskipun diperkirakan akan mengalami tekanan yang cukup kuat pada tahun 2009, namun dalam jangka menengah perekonomian diperkirakan akan tetap bergerak dalam lintasan pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi dengan laju inflasi yang tetap terkendali. Permintaan domestik diperkirakan akan tetap menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi, sementara kinerja ekspor juga akan kembali mengalami penguatan sejalan dengan mulai bangkitnya perekonomian global yang diperkirakan akan mulai terjadi pada tahun 2010.

Penguatan sisi permintaan domestik ini mampu diimbangi dengan meningkatnya daya dukung kapasitas perekonomian, sehingga mampu menjaga kecukupan dari sisi produksi. Terjaganya keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran inilah yang merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perekonomian mampu terus tumbuh tanpa harus mengorbankan stabilitas harga. Meskipun demikian, tekanan yang cukup kuat terhadap perekonomian pada tahun 2009 menyebabkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang akan cenderung terhambat.

Oleh karena itu, bank Indonesia memperkirakan secara umum perekonomian Indonesia pada tahun 2009 akan berada di kisaran 3,5 – 4,5%. Sementara itu dengan memperhatikan perkembangan perekonomian di tahun 2009, perekonomian Indonesia pada 2013 dan 2014 diperkirakan dapat tumbuh masing-masing pada kisaran 5,7 -6,7 % dan 6,0 – 7,0%. Sementara itu laju inflasi pada tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran 5,0 –7,0% sedangkan laju inflasi pada tahun 2013 dan 2014 akan berada dalam kisaran 4,4 – 5,4% dan 4,0 -5,0%.