Tags

, , , , , ,

Pengaruh krisis keuangan global, yang memuncak dengan ambruknya berbagai institusi keuangan di Amerika Serikat September 2008 lalu, dan menggoncang Eropa juga Jepang serta Cina memang tidak terasa langsung di Indonesia. Meskipun demikian khususnya sektor-sektor industri yang berorientasi ekspor seperti industri elektronik, rotan dan terutama industri tekstil akan sangat terpengaruh akibat menurunnya permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat yang tentu saja berdampak pada produksi.

Selain itu, krisis keuangan global juga telah mengubah peta keuangan global, meskipun belum terlalu drastis. Perubahan dalam peta keuangan global tersebut telah memunculkan ekspektasi baru tentang tatanan keuangan global ke depan bahwa terjadi pergeseran dalam peta keuangan global yang ditandai dengan berpindahnya kepemilikan saham sejumlah lembaga keuangan internasional kepada investor dari negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah.

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) wilayah Timur Tengah mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5,8% untuk tahun 2007 dan meningkat sebesar 6,1% pada tahun 2008. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju pada tahun 2007 sebesar 2,2% dan menurun sebesar 0,8% pada tahun 2008. Mempertimbangkan hal tersebut, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara tersebut sebagai langkah alternatif dalam mengembangkan ekspor non migas.

Secara umum neraca perdagangan Indonesia dengan wilayah Timur Tengah yang terdiri dari 16 negara mengalami peningkatan nilai rata-rata per tahun sebesar 21,64%. Hal ini merupakan potensi pasar yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan oleh para pelaku usaha di Indonesia. Jika dilihat dari hubungan dagang antara Indonesia dan negara Timur Tengah, Indonesia selalu mengalami surplus perdagangan. Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan, pada tahun 2006 surplus Indonesia mencapai US$ 2,1 miliar dengan nilai ekspor  US$ 2,8 miliar dan tahun 2007 surplus meningkat menjadi US$ 2,8 miliar dengan nilai ekspor US$ 3,53 miliar. Pada tahun 2008 (Januari – Oktober), surplus Indonesia tercatat sebesar US$ 2,8 miliar dari total ekspor US$ 4,2 miliar ke wilayah Timur Tengah.

Dari 16 negara di Timur Tengah setidaknya ada 10 negara utama tujuan ekspor non migas Indonesia ke wilayah Timur Tengah pada periode 2003 – 2008, yaitu UAE, Saudi Arabia, Iran, Qatar, Kuwait, Yaman, Jordan, Oman, Syiria, Lebanon. Adapun komoditi utama ekspor Indonesia ke Timur Tengah, antara lain: palm oil, motocars, paper, uncoat, plywood, veneers, new pneumatic tire, insulated wire, margarine, milk & cream, flat iron dan receipt apparatus for radiography.

Dari sisi yang lain, Indonesia dan negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki hubungan kultural yang sangat dekat, khususnya sebagai sesama negara dengan penduduk mayoritas muslim. Hal ini merupakan potensi lain dari negara-negara di kawasan Timur Tengah yang dapat dikembangkan dalam wujud kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi. Salah satunya adalah kerjasama dalam penyediaan bahan makanan. Negara-negara Timur Tengah yang merupakan penghasil migas tersebut sebagian besar memenuhi kebutuhan bahan makanan bagi pendudukanya dengan meng-impor dari negara lain. Hal ini merupakan pasar yang sangat potensial bagi produsen bahan makanan di Indonesia. Selain itu, produk tekstil Indonesia yang selama ini dipasarkan ke Amerika Serikat dapat dipertimbangkan untuk mengalihkan pasarnya ke negara-negara Timur Tengah tersebut.