Tags

, , , , , , , , ,

Inflasi itu mirip dengan pencopet. Kita tidak tahu siapa yang mengambil uang kita. Namun jika pendapatan kita tetap, kita menjadi tambah miskin setiap bulan dengan adanya inflasi. Ketika harga barang terus naik, sementara pendapatan kita tidak kunjung bertambah maka kemampuan kita untuk membeli barang kebutuhan pokok menjadi semakin turun. Oleh karena itu, inflasi mendapatkan perhatian yang cukup serius bagi para penentu kebijakan baik dari kalangan pemerintah maupun pelaku usaha.

Kebijakan pemerintah yang menurunkan kembali harga BBM pada 15 Januari 2009 sebesar 10 persen diharapkan menjadi stimulus positif yang mampu menahan laju inflasi di Kota Batam. Sebagaimana diketahui, pada bulan Desember 2008 Kota Batam mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm). Deflasi yang terjadi pada bulan Desember tersebut salah satunya dipengaruhi oleh turunnya harga BBM yang diturunkan oleh pemerintah sebanyak dua kali pada bulan tersebut.

Meskipun pemerintah telah memberikan stimulus dengan menurunkan harga BBM, namun dalam mencermati inflasi Kota Batam kita tetap harus memperhatikan struktur inflasi kota ini. Berdasarkan data series dari Badan Pusat Statistik, kelompok bahan makanan memberikan sumbangan yang terbesar dalam pembentukan angka inflasi di Kota Batam selama tiga tahun terakhir. Padahal sebagian besar kebutuhan bahan makanan masyarakat Kota Batam didatangkan dari luar Pulau Batam. Oleh karena itu, faktor cuaca menjadi sangat berpengaruh terhadap perubahan harga yang terjadi di Kota Batam.

Pada bulan Januari dan Februari di perairan Pulau Batam pada khususnya, dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya, bertiup angin utara yang cukup kuat. Kuatnya angin utara ini menimbulkan gelombang tinggi yang mengganggu kelancaran arus transportasi laut ke kota Batam. Mengingat sekitar 75% barang kebutuhan pokok masyarakat Kota Batam disupply dari luar Pulau Batam, tingginya gelombang tersebut dapat mengganggu kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok ke Kota Batam terutama barang-barang kebutuhan pokok yang tidak tahan lama seperti bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran.

Selain itu, kecepatan angin yang mencapai 9 – 15 knot (16 – 27 km/jam) disertai gelombang laut rata-rata setinggi 2.0 – 2.5 m di perairan Provinsi Kepulauan Riau menyebabkan kapal nelayan tidak beroperasi, sehingga menghambat pasokan ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam. Oleh karena itu, kebutuhan ikan masyarakat Kota Batam selama bertiupnya angin utara dipenuhi dari stok ikan yang ada meski masih terbatas. Ikan merupakan salah satu komoditas yang permintaannya cukup tinggi di Kota Batam yang mempunyai bobot cukup besar dalam pembentukan inflasi Kota Batam. Oleh karena itu permintaan yang tetap tinggi pada yang disertai keterbatasan stok komoditas berpotensi pada peningkatan harga komoditas ini yang berpengaruh pada peningkatan harga secara keseluruhan di Kota Batam.

Perayaan Hari Raya Imlek yang jatuh pada bulan Januari ikut berpengaruh terhadap pola pergerakan harga di bulan ini. Mengingat jumlah masyarakat Tiong Hoa di Kota Batam cukup besar, permintaan kebutuhan pokok masyarakat dalam menyambut perayaan Hari Raya Imlek seperti ikan dan bumbu-bumbuan juga mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan tersebut tidak disertai dengan penawaran yang memadai akibat kurang lancarnya distribusi pasokan barang kebutuhan pokok akibat cuaca yang kurang kondusif dapat berpotensi pada peningkatan harga.

Memperhatikan kondisi tersebut di atas, diperkirakan komoditas yang akan mengalami inflasi pada bulan Januari 2009 terdapat pada kelompok bahan makanan terutama ikan, bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran. Sedangkan kelompok transportasi terutama untuk bahan bakar akan kembali mengalami deflasi sebagaimana yang terjadi di Bulan Desember 2008. Meskipun secara nasional penurunan harga BBM pada bulan Januari 2009 berpotensi terhadap terjadinya deflasi, namun Kota Batam pada bulan Januari 2009 diprediksi akan mengalami inflasi dengan kisaran angka yang relatif rendah.