Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tahun 2009 adalah tahun penuh tantangan bagi perekonomian nasional. Banyak ketidakpastian yang menghinggapi semua pelaku ekonomi, namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali untuk bertahan atau bahkan tetap tumbuh. Dalam hal ini, secara umum, berbagai kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah SBY pada 2008 dalam memitigasi dampak krisis pada sektor keuangan dapat dikatakan cukup berhasil. Berbagai gejolak dan fluktuasi tajam pada pasar modal dan keuangan tidak sampai menghancurkan sektor produksi, meski tidak urung ada beberapa dampak yang harus diserap.

Secara umum, dampak krisis finansial global kinerja industri manufaktur kota Batam menjadi pemicu terbesar asesmen koreksi laju perekonomian Kepulauan Riau. Melambatnya aktivitas perekonomian di triwulan IV-2008 diperkirakan terus berlanjut di periode triwulan I-2009. Pertumbuhan ekonomi  di kuartal pertama tahun 2009 diperkirakan hanya sebesar -0,01 persen s.d. 1,7 persen (yoy).

Asesmen sisi permintaan mengindikasi bahwa komponen konsumsi rumah tangga menjadi satu-satunya buffer perlambatan ekonomi lebih lanjut di triwulan I 2008. Perlambatan ekspor dan sektor industri pengolahan diperkirakan semakin besar sejalan dengan resesi yang dialami negara-negara prinsipal, terutama Singapura. Selain itu, laju pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor bangunan akan lebih lambat disebabkan tekanan daya beli.

Di sisi penawaran, menurunnya pertumbuhan sektor industri pengolahan diperkirakan terus berlanjut diiringi PHK yang akan semakin bertambah sepanjang tahun 2009. Diperkirakan saat ini rata-rata penurunan kapasitas produksi industri pengolahan mencapai 30 – 40 persen. Indikasi penurunan terlihat dari turunnya impor logam dasar, kimia, perlengkapan transportasi dan elektronik sebagai komoditas impor terbesar di sektor ini.

Sebagaimana telah diketahui bersama, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau sangat terkait dengan perkembangan ekonomi Singapura. Berdasarkan hasil asesmen terakhir dari otoritas moneter Singapura menunjukkan bahwa negara tersebut memasuki masa resesi dengan pertumbuhan -2,6 persen di triwulan IV-2008 setelah triwulan sebelumnya juga tumbuh negatif 0,3 persen. Selain besar pengaruhnya terhadap sektor industri pengolahan juga berpengaruh negatif terhadap sektor pariwisata.

Potensi PHK di tahun 2009 diperkirakan akan semakin meningkat sehingga dibutuhkan upaya serius oleh pemerintah daerah dalam menciptakan lapangan kerja dan menanggulangi dampak terhadap situasi keamanan. Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan oleh Bank Indonesia, sejak akhir tahun 2008 sampai saat ini telah terjadi PHK sedikitnya 411 di Kepulauan Riau, sehingga penduduk bekerja yang sebelumnya terdapat sebanyak 612.700 orang (per Agustus 2008) akan berkurang menjadi 612.289 orang. Dengan demikian tingkat pengangguran akan bertambah dari 53.300 orang menjadi 53.711, atau naik dari 8,01 persen menjadi 8,06 persen. Sementara itu bagi kota Batam yang 264.489 orang penduduknya bekerja di sektor industri pengolahan dan sekitar 135.000 diantaranya masih berstatus kontrak, potensi PHK di tahun 2009 mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran di atas 10 persen.

Selain itu, banyaknya jumlah karyawan yang di-PHK berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah kredit bermasalah (NPL) di perbankan Kepulauan Riau, terutama kota Batam. Potensi peningkatan NPL diperkirakan sebagian besar terjadi pada kredit konsumsi akibat hilangnya sumber pengembalian yang dimiliki debitur.

Pada tanggal 19 Januari 2009, presiden Soesilo Bambang Yudhoyono meresmikan FTZ – BBK dan menjanjikan segera dikeluarkannya PP No.2 Tahun 2009 tentang Perlakukan Kepabeanan, Perpajakan, serta Pengawasan Atas Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari serta Berada di Kawasan yang telah Ditunjuk Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, sebagai revisi atas PP 63 tahun 2003 tentang PPN dan PPN-BM untuk produk-produk elektronik, tembakau dan mobil. Implementasi FTZ diharapkan dapat mendorong aktivitas perekonomian lokal dan menahan koreksi laju pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Lebih jauh, diharapkan implementasi FTZ juga dapat mengurangi potensi PHK di tahun 2009.

Pada sisi yang lain, kenaikan UMK dari Rp960.000 menjadi Rp1.045.000 berdampak positif terhadap daya beli karyawan. Hal ini dapat meningkatkan konsumsi masyarakat yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Selain itu, apresiasi nilai Rupiah, penurunan BI-Rate dan penurunan harga BBM, serta berbagai stimulus fiskal dan moneter diharapkan mampu meredam dampak yang lebih signifikan pada sektor perdagangan, pengangkutan, bangunan, dan keuangan.

Photo source : wapannuri.com