Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Nilai tukar rupiah terus mengalami trend penguatan terhadap dolar AS. Sampai tulisan ini dibuat (16/10), berdasarkan data Bank Indonesia nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat 9.360 dan diperkirakan akan terus mengalami penguatan. Mencermati penguatan nilai tukar rupiah ini dapat kita lihat dengan menggunakan pendekatan moneter (monetary approach).

Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Melalui pendekatan moneter maka diteliti pengaruh variabel jumlah uang beredar dalam arti luas, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, dan variabel perubahan harga. Selanjutnya dipertimbangkan juga variabel inflasi dan sentimen pasar (market sentiment) sebagai faktor yang menentukan tinggi rendahnya nilai mata uang. Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang (jumlah uang beredar).

Fenomena penguatan rupiah saat ini setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan rupiah terus mengalami trend penguatan yaitu faktor perkembangan ekonomi internasional dan faktor perkembangan ekonomi domestik. Pada level internasional, indikasi pemulihan ekonomi pasca krisis finansial global sudah mulai terlihat di beberapa negara. Kekhawatiran beberapa pengamat bahwa krisis ekonomi global akan membentuk kurva U (U-shape)  tidak terealisir. Bahkan indikator ekonomi di berbagai negara dunia sudah mulai mengalami peningkatan dan membentuk kurva V (V-shape). Jerman tampil sebagai motor utama pulihnya ekonomi Eropa dengan menunjukkan pertumbuhan positif sejak pertengahan tahun 2009. China sebagai motor ekonomi Asia juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di pertengahan tahun 2009.

Berbagai indikator positif tersebut berdampak pada pergerakan dana di luar negeri menjadi relatif cair. Para pemilik modal tidak lagi menahan dana mereka dan kembali siap mengalirkan dananya ke berbagai negara untuk mencari keuntungan jangka pendek atau untuk ditanamkan sebagai investasi jangka panjang. Ke negara mana dana itu mengalir, tergantung pada tingkat kenyamanan suatu negara dan seberapa tinggi keuntungan yang ditawarkan oleh negara tersebut.

Ditarik ke level domestik, Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mencatat prospek dan pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan. Indonesia menjadi negara Asia yang paling diminati oleh investor setelah China dan India. Fundamental perekonomian Indonesia dapat dinilai cukup solid. Pertumbuhan ekonomi tercatat tinggi dalam tiga kuartal terakhir, dengan rata-rata mencapai 4% (yoy). Ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi ke-3 di Asia, setelah China dan India.

Sementara itu pemilu 2009 yang terselenggara dengan tertib dan lancar dengan hasil terpilihnya pasangan SBY-Boediono ditanggapi positif oleh pasar. Kembali terpilihnya SBY sebagai presiden Republik Indonesia sedikit banyak berpengaruh pada stabilitas pasar yang tetap terjaga. Sementara itu kondisi sosial politik juga relatif terjaga sehingga investor asing relatif nyaman untuk melakukan investasi di Indonesia. Rencana pengumuman kabinet dan nama-nama calon menteri ekonomi yang telah disiapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, juga menjadi sentimen positif bagi market dan turut menopang penguatan rupiah.

Perkembangan positif pada dua level tersebut berdampak pada masuknya aliran dana dari luar negeri ke Indonesia yang mempengaruhi penguatan rupiah. Para pemilik modal dari berbagai negara menanamkan dananya ke Indonesia baik dalam jangka pendek untuk mencari keuntungan maupun dalam rangka investasi jangka panjang.

Di luar faktor fundamental ekonomi tersebut di atas, sentimen negatif terhadap dolar AS juga ikut berpengaruh pada menguatnya nilai tukar rupiah. Dolar AS mengalami titik terendahnya dalam 14 bulan di sesi perdagangan selasa (13/10).  Isu lokal tentang defisit anggaran dan tingginya angka pengangguran di AS ikut berpengaruh pada pelemahan mata uang di negara tersebut. Dan sampai saat ini belum ada sinyal pemulihan yang signifikan. Ketika bank sentral di negara lain sedang bersiap-siap menaikkan suku bunga acuannya, The Fed belum menunjukkan tanda-tanda untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Di tengah trend penguatan nilai tukar rupiah harus tetap diingat bahwa nilai tukar adalah pedang bermata dua. Bagi perusahaan atau perorangan yang penerimaannya berbasis luar negeri, penguatan nilai tukar rupiah berdampak negatif karena akan mengurangi pendapatannya. Perusahaan berorientasi ekspor pada jangka tertentu tentu akan mengalami penurunan pendapatan mengingat pembayaran yang mereka terima dalam bentuk dolar AS mengalami penurunan nilai terhadap rupiah.

Dan tentu saja bagi sisi yang lain penguatan nilai tukar rupiah ini dapat dipandang dari sudut pandang yang positif. Kondisi ekonomi Indonesia yang semakin stabil dan terus menunjukkan trend pertumbuhan positif, dapat menarik dana milik WNI di luar negeri untuk “pulang kampung” ke Indonesia. Pasca krisis ekonomi 1998 dana milik WNI yang ditempatkan di lembaga keuangan di luar negeri cukup besar. Apabila dana-dana tersebut kembali ke Indonesia, diharapkan penguatan rupiah yang terjadi akan dapat bersifat fundamental karena berasal dari dana milik WNI sendiri.

Dari sisi inflasi, penguatan rupiah juga dapat berarti positif karena secara otomatis akan mengurangi imported inflation yang berasal dari barang-barang kebutuhan pokok yang diimpor dari luar negeri. Ongkos pengadaan dan harga komoditas yang diimpor dari luar negeri mengalami penurunan. Hal ini biasanya diikuti oleh peningkatan tingkat kepercayaan karena ada kepastian pasokan bahan baku dari luar negeri.

Turunnya tingkat inflasi yang didukung oleh pasokan barang dan bahan baku impor yang terjaga akan berdampak pada peningkatan konsumsi dan aliran investasi yang masuk. Peningkatan konsumsi dan aliran investasi jika dilihat dengan teori pertumbuhan ekonomi Keynes akan berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi.

Meskipun demikian, penguatan nilai tukar rupiah ini juga harus tetap dilihat dan disikapi secara bijaksana. Bagaimanapun juga tetap harus diingat bahwa pergerakan aliran uang hanya dipengaruhi oleh satu hal, keuntungan. Dimana keuntungan bisa ditawarkan oleh suatu negara ke arah itu pula uang itu akan mengalir.

(Dimuat di Harian Batam Pos, 17 Oktober 2009)

Photo source : Tribunnews.com