Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

DSC_0424

Meskipun ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, namun bagi umat Islam, ibadah ini baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walaupun begitu, Rasulullah SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Rasulullah SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, terhitung mulai sejak saat itu beliau sudah mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.

Ternyata Rasulullah SAW tidak juga beribadah haji pada tahun 8 H, tidak juga pada 9 H. Baru pada tahun 10 H, Rasulullah SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Rasulullah SAW wafat.  Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wada’ (haji perpisahan). Itu artinya, sebenarnya Rasulullah SAW punya kesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Rasulullah SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Rasulullah SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran beliau adalah memberi teladan bagi umatnya.

Jika dilihat dari filosofinya, sejatinya dalam ibadah haji terdapat nilai-nilai egaliteranisme yang disimbolkan dengan kain ihram yang sama. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama, mulai dari presiden sampai lurah, mulai dari jendral sampai kopral, mulai dari kyai khos sampai santri kluthuk, semua sama di hadapan Allah SWT. Bersandar dari persamaan kedudukan itu, ibadah haji mengajarkan rasa saling menyayangi terhadap saudara yang kurang mampu yang salah satunya diwujudkan dengan pengorbanan penyembelihan hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Perlu juga diingat bahwa ibadah haji bukan semata untuk kepentingan akhirat saja, tetapi juga bagaimana aspek-aspek sosial atau aspek-aspek kehidupan masyarakat juga diperhatikan. Selama ini, banyak ummat Islam menjalankan ibadah haji hanya memandang dari sisi ritualitasnya tanpa melihat aspek-aspek filosofis dan aspek sosialnya.

Satu hal yang cukup menyedihkan di kalangan jamaah haji kita, bahwa ibadah haji itu diperlakukan mirip dengan perdagangan. Mereka menjalankan ibadah haji dengan harapan mendapatkan imbalan dari Allah. Karena imbalan tersebut dilipatgandakan di tanah suci sehingga mereka berusaha menumpuk-numpuk pahala atau jumlah ibadahnya dengan harapan bekal ke akhirat semakin banyak. Mereka pergi haji untuk kepentingan sendiri, memupuk kesalehan ritual, tanpa mementingkan aspek-aspek sosial.

Padahal sebenarnya, terdapat aspek-aspek di luar kesalehan ritual yang justru jauh lebih penting. Ketika kita beriman, selanjutnya kita juga harus beramal saleh sebagaimana diulang-ulang dalam Al-Quran. Kita tidak bisa dikatakan beriman kalau tidak bisa memperhatikan aspek-aspek sosial, dan kita tidak bisa dikatakan haji yang mabrur, kalau disekeliling kita masih terjadi ketimpangan-ketimpangan sosial. Oleh karena itu banyaknya jumlah jama’ah haji seharusnya berkorelasi positif dengan pertambahan kader-kader haji yang menciptakan surga-surga di dalam masyarakat.

Ibadah Individual dan Ibadah Sosial

Jika dilihat dari literatur fiqih, ada dua kategori ibadah yaitu ibadah individual yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah sosial yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah jika dilihat dari perspektif fiqih ini termasuk ibadah individual, meskipun di dalamnya terdapat aspek-aspek sosial yang bisa dikembangkan. Kembali ke perspektif fiqih tersebut, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah individual dan ibadah sosial, Rasulullah SAW lebih memilih ibadah sosial ketimbang ibadah individual (al-muta’addiyah afdholu min al-qashirah).

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah sosial misalnya, oleh Rasulullah SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Rasulullah SAW “hanya” menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau.

Dalam hadist qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Rasulullah SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah juga dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual.

Epilog

Dalam konteks sosiologis, jumlah jamaah haji asal Indonesia tiap tahun di atas 200.000 orang dan terus mengalami peningkatan. Jika dilihat secara angka statistik, sekilas memang tampak menggembirakan. Namun bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru sebaliknya. Sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Yang lebih memperihatinkan, ketika mereka ditanya sepulang mereka ke tanah air, “Apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah?” hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Rasulullah SAW”.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam yang bertubi-tubi melanda negeri ini, banyak balita busung lapar atau menderita kurang gizi, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja akibat krisis keuangan global,  lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah atau karena niat lain.

Apabila motivasi haji kita bukan karena melaksanakan perintah Allah maka bisa jadi motivasi haji kita karena menuruti hawa nafsu yang merupakan hasil godaan syaitan. Banyak orang yang beranggapan, syaitan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam.

Dilihat dari pengalamannya, Iblis sudah menggoda manusia sejak awal keberadaan manusia di alam ini. Ia tahu betul karakter dan apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr atau berzina. Namun Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali sehingga melupakan kenyataan di lingkungan sekitarnya yang lebih membutuhkan pertolongan. Haji yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

(Published at Batam Pos daily, 13 November 2009)

Photo source : Private collection