Tags

, , , , , , , , , ,

DSC_0500 copy

Harga cabai akhir-akhir ini melonjak cukup tinggi. Beberapa hari terakhir harga komoditas tersebut sempat menyentuh angka Rp56.000 per kilogram. Pergerakan harga cabai merah dan sayur-sayuran lainnya di Kota Batam memang cukup atraktif. Berdasarkan data series pergerakan harga komoditas ini menunjukkan perilaku yang sangat volatile, mengalami naik-turun secara signifikan.

Jika dilihat dari struktur ekonomi Kota Batam, kenaikan harga yang volatile tersebut dapat dipahami mengingat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sayur-sayuran didatangkan dari luar Pulau Batam. Oleh karena itu, pergerakan harga beberapa komoditas tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Biaya pengangkutan barang-barang yang masuk ke Pulau Batam relatif lebih mahal. Karena Pulau Batam tidak menghasilkan produk apapun, kapal-kapal pengangkut barang kebutuhan pokok ke Pulau Batam pulang tanpa muatan yang berakibat pada tingginya ongkos pengangkutan.

Selain faktor panen di daerah asalnya, faktor musim juga sangat berpengaruh terhadap distribusi komoditas tersebut. Komoditas seperti cabai merah maupun bawang merah mempunyai karakteristik tidak tahan lama sehingga apabila terjadi kendala distribusi risiko busuk dalam perjalanan cukup tinggi. Akibatnya supply komoditas tersebut bisa terganggu dan berakibat pada kenaikan harga.

Di Kepulauan Riau, masyarakat mengenal musim utara yang berkarakteristik angin dengan gelombang cukup tinggi. Musim ini terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahunnya. Pada musim ini, distribusi barang yang masuk ke Pulau Batam cukup terganggu yang mengakibatkan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok tersebut. Hal ini dikonfirmasi oleh data Badan Pusat Statistik Kota Batam yang mencatat kenaikan harga yang cukup tinggi pada bulan-bulan tersebut.

Mencari Solusi Alternatif

Kenaikan harga yang melonjak-lonjak pada komoditas sayur-sayuran tersebut terjadi hampir setiap tahunnya. Kenaikan harga tersebut jelas merugikan masyarakat karena terjadi penurunan daya beli khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan seperti pegawai pemerintahan maupun karyawan swasta. Oleh karena itu, sebuah solusi alternatif terhadap permasalahan ini menjadi sebuah keniscayaan.

Kondisi tanah Pulau Batam memang relatif kurang subur. Kandungan bouksit di pulau ini cukup tinggi sehingga kurang cocok untuk bercocok tanam. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin dikembangkan areal pertanian di Pulau Batam. Di wilayah Sei Temiang saat ini sedang dilakukan usaha pengembangan sayur-sayuran, khususnya sayur daun seperti bayam dan kangkung. Saat ini, hasil pertanian sayur tersebut telah dipasarkan ke pasar Avava dan Carrefour Harbour Bay. Supply sayur daun di Carrefour Kepri Mal yang akan dibuka akhir Agustus tahun ini juga direncanakan akan di penuhi dari hasil pertanian di wilayah ini.

Contoh di atas merupakan salah satu bukti bahwa sayur juga dapat dikembangkan di Pulau Batam. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perlu treatment lebih serius dalam mengembangkan sayur di Pulau Batam. Pengolahan tanah pertanian tersebut membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan budidaya di daerah lain. Namun secara total, biaya tersebut tidak lebih tinggi jika dibandingkan mendatangkan dari daerah lain.

Rempang dan Galang

Pulau-pulau di sekitar Pulau Batam seperti Rempang dan Galang relatif lebih subur untuk bercocok tanam. Beberapa wilayah seperti di Kecamatan Bulang, Galang (sepanjang jembatan Barelang, seperti Pulau Setokok, Pulau Rempang, Air Raja) dikembangkan untuk budidaya cabai, ketimun, tomat, sawi dan kacang panjang. Meskipun skalanya belum terlalu besar, namun dapat membantu supply sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam. Sehingga apablia terjadi gangguan distribusi akibat cuaca buruk, produksi sayur dari pulau ini dapat digunakan sebagai subsitusi.

Buah naga adalah cerita lain yang cukup menarik. Dengan sedikit faktor “ketidaksengajaan”, buah naga dari Pulau Rempang telah menjadi komoditas yang potensial sebagai komoditas unggulan Kota Batam. Dengan daging berwarna merah, buah naga ini menjadi pilihan yang lebih menarik daripada buah naga daerah lain yang biasanya dagingnya berwarna putih.

Permintaan terhadap buah naga juga cukup tinggi. Menurut beberapa petani buah naga, hingga saat ini mereka masih cukup kewalahan memenuhi permintaan terhadap komoditas ini. Hal ini dapat dibaca bahwa supply buah naga masih terbatas dan relatif lebih kecil dibandingkan permintaan terhadap komoditas ini. Cerita buah naga ini menjadi bukti lain bahwa pertanian masih dapat dikembangkan di wilayah kerja Kota Batam.

Epilog

Peran beberapa institusi seperti Pemerintah Kota Batam melalui dinas teknis terkait, Kadin Kota Batam, maupun pelaku usaha pertanian harus terintegrasi dengan baik. Koordinasi antar insititusi tersebut menjadi sebuah kata kunci dalam rangka pemberdayaan pertanian di Kota Batam. Adanya produksi pertanian di wilayah Kota Batam, meskipun dengan skala yang relatif terbatas dapat menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kenaikan harga sayur-sayuran yang cukup volatile.

Published at Batam Pos, 31 Juli 2010

Photo source : Private collection