Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

imagesop

“Dari perempuanlah pertama-tama manusia menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon – lebih dikenal sebagai Nyonya Abendanon.

Bukan tanpa alasan nama Kartini jauh lebih populer ketimbang pahlawan perempuan lain di Indonesia. Usia hidup Kartini memang tak lama, puteri Bupati Jepara itu meninggal pada usia 25 tahun, namun pemikiran Kartini laksana sumur yang dipenuhi gagasan-gagasan progresif yang menjangkau masa depan.

Kartini berbicara tentang keinginannya mendobrak tradisi-tradisi feodal yang menghambat kemajuan. Dia menulis tentang kehidupan rakyat yang terbelakang dan minimnya pengajaran bagi para perempuan. Dia bercerita tentang penderitaan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh tradisi, dilarang belajar, dipingit, dan harus siap berpoligami dengan lelaki yang tidak mereka kenal. Kartini berpendapat, pendidikan mutlak diperlukan untuk mengangkat derajat perempuan Indonesia. Pengajaran kepada perempuan adalah keniscayaan.

Kartini memang berbeda dengan kebanyakan perempuan pribumi pada saat itu. Ketika jutaan orang Indonesia buta huruf, kemampuan membaca dan menulis Kartini tergolong istimewa. Empat tahun Kartini melakukan korespondensi secara intensif dengan sahabat-sahabat pena-nya, yang sebagian besar orang Belanda. Salah satu yang paling penting tentu saja adalah Rosa Abendanon. Ia tuangkan pemikiran-pemikiran kritis tentang emansipasi perempuan yang jauh melampaui batas geografis dan jamannya. Korespondensi luar biasa yang penuh semangat berhenti ketika Kartini hamil tua, pada tahun 1904. Sepuluh hari kemudian, Raden Ajeng Kartini meninggal saat melahirkan anaknya yang pertama.

Bersama dengan suaminya, Rosa Abendanon kemudian menggagas ide untuk menerbitkan surat-surat yang dikirim Kartini dalam bentuk buku. Hasil penjualan buku itu diharapkan dapat digunakan untuk membangun sekolah sebagaimana cita-cita Kartini. Maka kemudian terbitlah sebuah buku berbahasa Belanda berjudul Door Duisternis Tot Licht pada April 1911. Buku itu tidak hanya berisi surat-surat yang diterima keluarga Abendanon, tetapi juga surat-surat Kartini kepada beberapa sahabatnya.

Door Duisternis Tot Licht juga menarik perhatian dunia internasional. Berturut-turut majalah Atlantic Monthly pernah menerbitkannya dalam terjemahan bahasa Inggris kemudian menerbitkannya khusus dalam bentuk buku dengan judul Letters of a Javanese, yang diterjemahkan oleh Agnes Louise Syammers pada 1920.

Satu abad kemudian, seorang lelaki Pakistan seakan menyambut serta meneruskan semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini. Melalui Grameen Bank, M. Yunus membangun sistem untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik bagi perempuan. Grameen Bank adalah sebuah contoh pemberdayaan ekonomi perempuan yang cukup berhasil. M. Yunus sendiri diganjar dengan penghargaan Nobel.

Berawal dari 27 dollar AS yang dipinjamkan M. Yunus kepada 42 orang di Desa Jobra, kini Grameen Bank beroperasi di 39.000 dari 68.000 desa di Bangladesh, melayani 2,4 juta debitur. Salah satu hal yang menarik adalah 94 persen debitur tersebut adalah perempuan. Oleh karena itu program ini kemudian tidak hanya dipandang sebagai gerakan ekonomi, namun juga dipandang sebagai gerakan sosial berdimensi gender.

Dalam pemahaman konvensional, bank cenderung menghindari debitur perempuan, melalui Grameen Bank, M. Yunus membalikkan pemahaman tersebut. Grameen Bank justru merangkul perempuan. M. Yunus memandang perempuan adalah debitur dengan kategori low risk dalam mengembalikan pinjaman bila dibandingkan dengan laki-laki. Dan hal ini terbukti dari 94 persen debitur Grameen Bank yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebagai debitur bertanggung jawab yang membayar kembali tepat waktu.

M. Yunus menyadari bahwa perempuan itu ternyata bisa mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda dengan keterampilan minimum sekalipun. Dengan memperbaiki kondisi hidup kaum perempuan, diharapkan ada penguatan terhadap mereka sebagai pengawal institusi yang paling mendasar dalam mata rantai pendidikan generasi manusia, keluarga.

Sesungguhnya para perempuan adalah pembela keluarga dengan segala ketekunan, ketelitian dan kesungguhannya. Perhatian perempuan lebih besar dalam menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, dan biasanya perilakunya lebih konsisten dari laki-laki. Memperhatikan hal tersebut, dapat diketahui bahwa perempuan merupakan salah satu unsur pokok dan penggerak roda perekonomian yang sangat potensial.

Selain itu, Grameen Bank menunjukkan bahwa kesetaraan jender dapat menciptakan mekanisme ekonomi yang memberi akses kepada perempuan sehingga menjadi tenaga yang produktif. Daya tawar perempuan penerima kredit Grameen Bank akan mengalami peningkatan dalam keluarga. Hal tersebut bila diukur dari perasaan terhadap besarnya sumbangan pada sumber daya keluarga dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut di dalam kredit Grameen. Kegiatan ekonomi mereka dalam ikut serta menghasilkan pendapatan tunai telah meningkatkan rasa percaya diri khususnya apabila terjadi sesuatu yang tidak diingikan dalam keluarga.

Kartini adalah sosok inspiratif, bagi siapapun tanpa memandang gender. Teladan Kartini hendaknya dibaca sebagai sebuah bentuk perjuangan panjang mengangkat harkat perempuan dari ketertinggalan. Aspek simbolis Kartini dengan atribut kebaya memang sesuatu yang tidak buruk sebagai nostalgia terhadap sosok Kartini. Namun di atas segala hal simbolik tersebut, tongkat estafet perjuangan Kartini mengangkat derajat perempuan Indonesia harus segera disambut.

Published at Batam Pos, April 23rd 2012

Photo source : ferdycruz.deviantart.com