Tags

, , , , , , , ,

BATAM (HK) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam menghimbau kepada masyarakat Batam agar tidak panik ‘buying’ atau membeli kebutuhan pokok berlebihan. Sehingga kenaikan harga bisa ditekan.

Demikian disampaikan Humas Kantor Bank Indonesia (KBI) Batam Nuryazidi, Rabu (4/7).

Disebutkan Nuryazidi, kenaikan harga menjelang Ramadhan merupakan hal yang lumrah dan terjadi setiap tahunnya. Namun, untuk menekan lonjakan harga, masyarakat harus lebih cermat menghadapinya yaitu tidak melakukan panik ‘buying’.

“Menjelang Ramadhan, biasanya harga-harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, meskipun tidak spontan. Hal itu harus diantisipasi olah konsumen agar kenaikan tidak signifikan, yaitu tidak panik ‘buying’,” ujar Nuryazidi.

Dikatakan Nuryazidi, sesuai hukum ekonomi, apabila permintaan terhadap suatu produk meningkat, maka harga juga bisa naik. Hal ini juga akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil untung lebih besar.

“Jika kita panik bahwa harga Semaboko akan naik, dan kemudian memborong belanjaan secara otomatis kita dimanfaatkan pasar. Makanya jangan panik ‘buying’, istilahnya biasa-biasa saja dalam mengantisipasi kebutuhan,” ujar Muhammad Nuryazidi.

Kata Nuryazidi, bisa saja pelaku pasar atau pedagang beralasan, pasokan sembako tersendat dan persediaan sangat terbatas atau komoditi sedang langka dari negara atau daerah produsen. “Nah momen ini sedang ditunggu para pelaku pasar, alasannya permintaan tinggi stok barang terbatas. Ini kan hukum pasar penuh dengan spekulasi pasar,” ujar Peneliti Muda Bank Indonesia ini.

Kata Nuryazidi, hal itu sesungguhnya bisa diatasi atau diantisipasi, apabila pemerintah berniat membangun gudang atau sebuah wadah penampungan kebutuhan pokok. Selama ini yang sudah tersedia Bulog, tapi hanya sebatas pasokan beras sementara kebutuhan pokok lainnya belum ada. Padahal Batam dan daerah di Kepri lainnya sangat butuh, karena daerah ini tidak memiliki lahan pertanian dan perkebunan. “Cara seperti ini bisa menekan angka inflasi dan perbaikan perekonomian,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Agus, praktisi media dan akademisi di Batam. Menurutnya, pemerintah harus secara rutin memonitor parat-pasar tradisional, dengan demikian harga-harga bisa terkontrol. Jika ini secara rutin dilakukan maka pelaku pasar tidak ada yang berspekulasi. “Seharusnya saat ini sudah dilakukan operasi pasar dan memonitor harga-harga di pasar,” ujar alumni Sosial Ekonomi (Sosek) Universitas Jambi itu. (tea)

Sumber : Haluankepri.com